~
Yang Jujur Yang Mujur ~
Hidup sebatang kara ditengah-tengah kota yang begitu
sibuk, tidak mematahkan semangat Burhan untuk mencari nafkah guna memenuhi
kebutuhan sehari-harinya. Walaupun dia hanya tinggal dikos-kosan kecil,
menurutnya itu sudah lebih dari cukup untuk tempat tinggalnya. Dia adalah anak
yang taat beribadah dan selalu
mendo’akan kedua orangtuanya yang telah meninggal. Sejak kecil dia tumbuh
menjadi anak yang pekerja keras karna itu dia tidak
pernah mengeluh dan tetap berusaha untuk mendapat pekerjaan.
Sampai suatu hari, akhirnya dia diterima disebuah
perusahaan. Dari gajinya diperusahaan itu, ia yang memang hobi dengan fotografi
bisa membeli kamera digital walaupun bekas. Tapi ia merasa senang, bisa
memotret setiap hal yang dilihatnya.
Berkat kepandaian, keuletan, kreativitas serta
disiplinnya Burhan bisa naik pangkat. Burhan diberi sepeda motor oleh
pimpinannya agar lebih mudah ke kantor, tapi Burhan menolak karena ia bisa naik
angkutan. Dengan naik angkutan dia bisa melihat kehidupan dijalanan dengan
nyata. Pimpinannya pun menyetujui keputusan Burhan itu.
Di kantor, Burhan selalu bersikap jujur. Namun
suatu hari ketika jam kantor telah usai, Burhan melihat rekan kerjanya masih
sibuk didepan komputer lalu saat didekati oleh Burhan ternyata dia sedang
memalsukan data keuangan perusahaan. Burhan pun menegurnya dengan baik-baik.
“Kenapa kamu memalsukan
data keuangan perusahaan? Bukannya itu korupsi? Kamu kemanakan uangnya?” kata
Burhan pelan-pelan
“Sudah, diamlah !
Pangkatku lebih tinggi daripada kamu, jadi kamu tidak usah ikut campur urusanku
! Kalau
sampai kamu berani bilang sama Bos akan aku bunuh kau. ” bentak Fandy
“Aku akan lapor ke Bos
setelah beliau pulang dari luar kota.” ancam Burhan sambil pergi meninggalkan
kantor
Dalam perjalanan pulang Burhan bingung harus
bagaimana, karena bila Burhan memberitahukan kepada Bosnya dia tidak punya
bukti apa-apa lagipula Fandy lebih tinggi pangkatnya. Namun bila dia
membiarkannya, itu sama saja dia membantu penjahat. Dia bingung sekali,
akhirnya saat dirumah ia
segera mengambil air wudhu dan segera sholat meminta
petunjuk kepada Allah SWT.
2
hari kemudian ...
Bos Burhan sudah datang, bergegas Burhan ke ruang
Bosnya untuk memberitahukan tentang kejadian itu. Namun ketika di ruang Bosnya
...
“Permisi,
pak. Boleh saya masuk?” kata Burhan
“Silahkan! Kebetulan
sekali.” Jawab Bosnya
“Jadi begini 2 hari yang
lalu saya melihat Fandy sedang memalsukan data keuangan perusahaan kita, Pak.
Tapi saya tidak punya buktinya.” jelas Burhan
“Jangan
menuduh orang sembarangan ya Burhan ! Bukannya kamu yang memalsukan data? Ini
saya sudah dapat rekaman CCTV dan data keuangan yang kamu kerjakan. Semuanya
jelas bahwa kamu yang memalsukan data tersebut, bukan Fandy. Jadi mulai
sekarang kamu saya pecat dan ini uang gaji terakhirmu. Saya minta maaf Burhan,
saya hanya mempekerjakan orang yang bisa memajukan perusahaan ini.” Kata Bosnya
“Ya
terima kasih Bos, maaf tapi saya tidak pernah melakukan apa yang telah Bos
tuduhkan. Selamat siang.” Kata Burhan meninggalkan ruangan Bosnya
Burhan berkemas-kemas meninggalkan kantor, tiba-tiba
Fandy
pun datang menghampiri.
“Makanya
jangan macam-macam dengan aku, tahu rasa kau sekarang. Hahaha “
kata Fandy mengejek Burhan
“Tak apa, aku memang
sudah ingin keluar dari kantor ini. Ingatlah, Tuhan tidak pernah tidur.
Assalamualaikum.” Kata Burhan sambil meninggalkan kantor
Dalam perjalanan pulang, Burhan berkata dalam hati “Apakah Fandy yang
melakukan semua ini? Astaghfirullah, tidak boleh suudzon Burhan”
Burhan sudah mencari pekerjaan selama 3 hari, kesana
kemari namun tidak membuahkan hasil. Karena ia bosan, ia mencoba jalan-jalan
seharian menyusuri setiap jalan dikota itu tak lupa ia pun memotretnya. Ia juga menyempatkan diri untuk
ziarah ke makam orang tuanya, ia sangat rindu dengan mereka. Tidak mudah, bertahun-tahun hidup di tengah-tengah
keramaian kota seorang diri. Seketika, kenangan masa kecilnya muncul kembali.
Ingatannya mulai menerka apa saja yang Burhan lakukan bersama orang tuanya dan
betapa bahagianya Burhan saat itu. Burhan juga ingat bagaimana sakitnya saat
ayah dan ibunya harus meninggalkannya saat itu. Saat umur 9 tahun, Burhan
pernah mencoba untuk mengakhiri hidupnya, namun seorang gadis kecil
menyadarkannya dan meyakinkan bahwa Burhan harus tetap hidup. Dan Burhan harus
membuat mereka bangga.
“Allah membenci
orang-orang yang putus asa.” Itulah yang di katakan gadis kecil itu kepada
Burhan.
Adzan magrib mulai terdengar
merdu dan saling bersahutan. Burhan segera pergi ke Mushola dekat rumahnya.
Suasana yang begitu hangat mulai terasa, saat sesepuh memanggil sesepuh lain
dan mereka berjabat tangan. Kemudian sesepuh itu tersenyum kepada Burhan dan
mengulurkan tangannya yang gemetaran, Burhan membalas uluran tangan itu dan
tersenyum hingga matanya menyipit. Sesepuh itu adalah Mbah Seno, yang merawat
Burhan saat kecil. Setelah shalat magrib selesai, temannya yang bernama Irwan
mengajak Burhan bicara.
“Han, kamu sudah tidak kerja lagi di kantor itu?”
Tanya Irwan yang sangat penasaran.
“Iya, aku sudah tidak bekerja di sana lagi.” Burhan
menjawab pertanyaan Irwan dengan nada merendah dan senyum terpaksa.
“Kamu yang sabar ya, Han.” tutur Irwan sambil menepuk pundak sahabatnya itu.
“Iya, semua ini adalah
ujian dari Allah. ” Burhan
tersenyum.
“Oh iya, daripada kamu menganggur bagaimana kalau kamu
ikut aku menjadi tenaga pengajar untuk anak-anak jalanan. Tapi tidak ada
bayarannya.” Irwan mengucapkannya dengan penuh harapan yang membara.
“Boleh juga, untuk mengisi waktu luang saat menunggu
panggilan kerja.” Jawab Burhan dengan semangat yang tidak kalah dari semangat
Irwan.
Mendengar jawaban dari
Burhan, Irwan langsung lega dan mereka berdua tertawa seperti anak kecil yang
mendapatkan permen lollipop yang lezat.
Pukul 06.00 WIB, Burhan
keluar rumah dan berencana untuk ke rumah Irwan. Tetapi, Irwan sudah lebih
dahulu ada di depan rumah Burhan. Tanpa basa-basi lagi mereka langsung menuju
tempat yang dikatakan oleh Irwan. Ternyata masih ada seorang lagi yang akan
menjadi tenaga pengajar bagi anak-anak jalanan. Dia seorang wanita, berjilbab
dan berkacamata yang wajahnya terasa tidak asing bagi Burhan. Tiba-tiba Irwan
menyadarkan lamunannya dengan menepuk bahunya.
“Assalamualaikum.” Dengan tersenyum Irwan menyapanya.
“Waalaikumsalam.” Jawab wanita itu.
“Ra, perkenalkan ini Burhan.” Ucap Irwan sambil
menunjuk Burhan.
“Burhan, ini Zahra.” Ucap Irwan memperkenalkan.
Setelah, Irwan
memperkenalkan Burhan dan Zahra mereka berdua hanya bisa saling melempar
senyum. Pertemuan hari ini hanya untuk membahas hal-hal yang perlu mereka
siapkan jadi tidak terlalu lama. Setelah selesai, Burhan pamit terlebih dahulu
untuk mengantarkan surat lamarannya ke PT. Anugrah. Namun, Irwan memintanya
untuk mengantar Zahra ke Jalan Petinggian yang kebetulan
searah dengannya. Dalam perjalanan, Burhan mencoba mengingat apakah sebelumnya
pernah bertemu dengan Zahra. Tapi tidak berhasil, dan akhirnya Burhan membuka
pembicaraan.
“Maaf, apakah sebelumnya kita pernah bertemu?” Tanya
Burhan dengan sopan dan penuh hati-hati.
Tersenyum. “Kamu yang dahulu
akan bunuh diri itu bukan?” Berbalik bertanya kepada Burhan.
“Jadi kamu anak kecil itu ya?” Dengan malu Burhan
menanyakan apa yang terpikir olehnya.
“Iya.” Zahra tersenyum malu.
Seketika semangat Burhan
bertambah ketika gadis masa kecilnya muncul kembali. Mulai saat itu Burhan
yakin, meskipun lamaran kerjanya ditolak oleh perusahaan-perusahaan yang Burhan
datangi. Meskipun uang dan persediaan makanannya sudah mulai habis. Dan
meskipun dia menjadi tenaga pengajar tetapi tidak dibayar. Burhan tetap yakin
bahwa Allah akan tetap menjaganya dan akan tetap menyayanginya serta
mendekatkannya kepada jodoh yang sebenarnya,
Zahra.
Hari demi hari dijalani Burhan untuk mengajar
anak-anak jalanan bersama Zahra dan Irwan karena belum ada satupun perusahaan
yang menerima lamaran kerjanya. Tapi Burhan tetap berdo’a dan berusaha untuk
mendapatkan pekerjaan. Sampai suatu hari, Zahra tidak sengaja melihat Burhan
sedang memotret sesuatu.
“Assalamualaikum.” Zahra
mengagetkan Burhan yang sedang memotret.
“Waalaikumsalam.
Jadi kaget aku.” jawab
Burhan
“Maaf,
aku tidak bermaksud mengagetkan. Kamu suka memotret?” tanya Zahra
“Iya,
hanya hobi. Lagipula hasilnya jelek-jelek.” jawab Burhan
“Coba
aku lihat.” Kata Zahra sambil mengambil kamera yang dipegang Burhan
“Itu
hasil potretanku dari awal aku punya kamera, aku tidak punya laptop atau
komputer untuk memindahkannya. Jadi yang menurutku jelek, aku hapus. Hemat
memori.” jelas Burhan
“Bagus-bagus
kok hasilnya. Gimana kalau hasil fotomu ini kamu kirim ke beberapa majalah atau
ikutan lomba online? Kan lumayan hadiahnya.” kata Zahra
“Boleh,
tapi aku tidak tahu caranya.” jawab Burhan bingung
“Gampang,
biar aku yang mengurus semuanya. Tapi kameramu aku bawa dulu ya?” kata Zahra
“Oke,
terima kasih Zahra” jawab Burhan sambil tersenyum
Satu
minggu kemudian ...
Burhan mendapatkan surat dari salah
satu majalah ternama yang menyatakan bahwa dirinya diterima bekerja sebagai
fotografer. Dia tidak menyangka dan tidak tahu siapa yang mendaftarkannya di
majalah tersebut. Namun, tiba-tiba.....
“Selamat
ya, Burhan! Akhirnya kamu mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan
kemampuanmu.” kata Zahra, mengagetkan Burhan
“Apakah
kamu yang mendaftarkan aku ke majalah ini?” tanya Burhan
“Iya
seminggu yang lalu kamu sendiri kan yang memperbolehkan aku mendaftarkan hasil
fotomu? Tapi kalau kamu tidak suka dengan pekerjaan ini, no problems.” jawab
Zahra sedikit kecewa
“Tidak,
aku senang sekali mendapat pekerjaan ini. Terima kasih, Zahra karena kamu aku
bisa bekerja lagi.” kata Burhan
“Sama-sama.
Tapi kamu tidak melupakan sekolah anak jalanan kan?” tanya Zahra
“Tentu
tidak. Aku akan menabung dan membangun sekolah itu agar lebih layak serta akan
aku ajak semua anak jalanan untuk ikut sekolah gratis.” jawab Burhan dengan
mantap
“Apa
kamu serius? Aku senang sekali, aku juga akan membantu dan menabung untuk sekolah
jalanan.” kata Zahra
“Boleh
aku bicara sesuatu, Zahra?” tanya Burhan
“Boleh.
Silahkan!” jawab Zahra
“Sebenarnya
aku sayang sama kamu, Zahra. Kamu yang bisa membuat aku berubah menjadi lebih
baik, kamu yang selalu ada saat aku susah, kamu yang selalu memberi semangat
dan jalan keluar disetiap masalahku. Aku sungguh menyayangimu sejak dulu.
Maukah kamu menjadi pacarku, Zahra?” tanya Burhan
Sambil
tersenyum dan tersipu malu, Zahra menjawab “Iya aku mau jadi pacarmu dan juga
pendampingmu. Semoga kamu adalah imamku suatu saat nanti.”
“Pasti,
Zahra. Terima kasih, sayang.” kata Burhan sambil memeluk Zahra
Beberapa
bulan kemudian ....
Uang tabungan dari Irwan, Burhan dan
Zahra dikumpulkan. Mereka akhirnya bisa membangun sekolah itu menjadi lebih
layak, anak jalanan pun banyak yang ikut belajar bersama. Sampai pada suatu
saat, ada seorang pengusaha yang ingin lebih memajukan sekolah jalanan
tersebut. Ternyata pengusaha itu adalah mantan Bosnya di perusahaan yang dulu.
Bos tersebut meminta maaf kepada Burhan dulu telah memecatnya begitu saja.
Namun semua telah dimaafkan dan dilupakan oleh Burhan. Lalu, mereka membuat
perjanjian untuk memajukan sekolah jalanan tersebut. Akhirnya Burhan dan Zahra
menikah dan hidup bahagia bersama.
~
THE END ~